The Confirmation Bias
kenapa kita hanya mencari berita yang mendukung opini kita yang sudah ada
Pernahkah kita merasa paling pintar saat membaca sebuah berita di media sosial? Kita melihat sebuah artikel yang judulnya sangat pas dengan opini kita selama ini. Kita langsung membagikannya ke grup WhatsApp keluarga sambil membatin, "Tuh kan, apa saya bilang!" Tapi ironisnya, saat ada tautan artikel lain yang membantah opini kita, refleks kita langsung berubah. Kita memutar bola mata dan bilang, "Ah, ini pasti hoaks," atau "Media ini kan emang berpihak." Kita semua pasti pernah melakukannya. Saya pun begitu. Pertanyaannya, kenapa kita hobi sekali mencari kebenaran yang hanya ingin kita dengar?
Mari kita mundur sedikit ke tahun 1960-an untuk mencari tahu. Saat itu, seorang psikolog kognitif asal Inggris bernama Peter Wason melakukan sebuah eksperimen sederhana. Namun eksperimen ini sukses membuat banyak orang garuk-garuk kepala. Wason memberikan sebuah deret angka kepada para pesertanya: 2, 4, 6. Lalu, ia meminta mereka menebak aturan rahasia di balik deret angka tersebut. Peserta boleh menguji tebakan mereka dengan menyebutkan deret tiga angka yang lain. Mayoritas peserta dengan sangat percaya diri menebak: 8, 10, 12. Mereka yakin aturannya adalah "angka genap yang berurutan". Wason tersenyum dan berkata, "Salah." Ternyata, cara para peserta memecahkan teka-teki ini mengungkap sebuah celah gelap dalam cara kerja otak manusia.
Celah itu begini: hampir semua peserta Wason hanya membuat deret angka yang mendukung tebakan awal mereka. Tidak ada yang mencoba deret angka seperti 3, 5, 7 atau 1, 2, 3 untuk mematahkan asumsi mereka sendiri. Aturan rahasia Wason sebenarnya sangat sederhana, yaitu "angka berapapun yang nilainya semakin besar". Tapi otak peserta sudah terlanjur jatuh cinta pada hipotesis awal mereka sehingga mereka buta pada kemungkinan lain. Mengapa otak kita sebegitu keras kepalanya? Apakah ini murni karena ego kita terlalu tinggi? Ataukah ada sebuah mesin biologis rumit yang sedang bekerja di balik tengkorak kita tanpa kita sadari? Jawabannya ternyata ada hubungannya dengan zat kimia kecil penikmat kesenangan.
Inilah yang dalam dunia psikologi dan sains disebut sebagai confirmation bias atau bias konfirmasi. Ini adalah kecenderungan bawaan kita untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang sejalan dengan apa yang sudah kita percaya. Mari kita bedah mesinnya. Secara neurobiologis, saat kita menemukan informasi yang membenarkan opini kita, otak melepaskan aliran dopamin. Ya, itu adalah zat kimia yang sama yang mengalir saat kita makan cokelat manis atau menang main game. Otak kita secara harfiah membius kita dengan hadiah karena merasa benar. Di masa purba, desain otak ini sangat logis. Manusia prasejarah harus punya keyakinan yang seragam dengan kelompoknya agar tetap kompak, tidak diusir dari gua, dan bisa selamat dari terkaman harimau saber-toothed. Bias konfirmasi dulunya adalah perisai bertahan hidup. Namun di era digital yang kebanjiran informasi, insting purba pelindung ini justru berubah menjadi jebakan yang membuat kita terkurung dalam gelembung opini sendiri.
Kenyataan ini sebenarnya melegakan. Kita bukanlah makhluk yang terlahir irasional atau bodoh, teman-teman. Kita hanya manusia modern yang beroperasi menggunakan perangkat keras prasejarah. Menyadari bahwa otak kita diam-diam adalah cheerleader yang haus dopamin adalah langkah pertama yang sangat krusial. Jadi, apa yang bisa kita lakukan mulai hari ini? Lain kali, saat kita melihat artikel yang membuat darah mendidih, atau justru membuat kita bersorak kemenangan, mari ambil napas sejenak. Cobalah dengan sengaja mencari satu saja fakta yang menentang pikiran kita. Rasanya memang tidak akan nyaman. Otak kita pasti akan sedikit memberontak karena kehilangan jatah dopamin instannya. Tapi justru di titik ketidaknyamanan itulah, kita perlahan berhenti menjadi tawanan insting purba, dan mulai berpikir layaknya manusia yang benar-benar merdeka.